Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Kemarau dalam beberapa pekan terakhir mulai berdampak ke sejumlah wilayah di Kabupaten Ciamis. Salah satunya terjadi di Dusun Panamun, Desa Kawasen, Kecamatan Banjarsari. Di wilayah ini, ratusan warga mulai kesulitan mendapatkan air bersih karena sumur dan sumber air yang biasa dipakai sehari-hari berangsur mengering.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ciamis mencatat, kekeringan di Dusun Panamun berdampak pada 140 kepala keluarga atau 429 jiwa. Jumlah itu tersebar di dua rukun tetangga, yakni RT 26 sebanyak 76 KK dengan 242 jiwa dan RT 27 sebanyak 64 KK dengan 187 jiwa.
Kepala Pelaksana BPBD Ciamis Ani Supiani mengatakan, kekeringan ini dipicu minimnya curah hujan dalam beberapa minggu terakhir. Kondisi tersebut membuat sumur warga dan aliran air yang selama ini dimanfaatkan masyarakat mulai menyusut, bahkan ada yang tidak lagi bisa digunakan.
“Ini merupakan kekeringan meteorologis. Sudah beberapa minggu tidak turun hujan, sehingga sebagian sumur warga dan sumber air yang biasa dipakai masyarakat mengalami kekeringan,” kata Ani, Kamis (2/7/2026).
BPBD Ciamis menerima laporan kondisi tersebut pada Rabu, 1 Juli 2026, setelah Pemerintah Desa Kawasen mengajukan permohonan bantuan air bersih. Setelah dilakukan asesmen, wilayah yang terdampak dipastikan berada di Dusun Panamun.
Ani menjelaskan, di sekitar lokasi sebenarnya masih terdapat sumber air, tepatnya di wilayah Desa Cibadak yang berjarak sekitar satu kilometer dari dusun terdampak. Namun air di lokasi itu tidak layak untuk kebutuhan konsumsi.
“Memang masih ada sumber air di sekitar wilayah terdampak, tetapi kualitasnya kurang baik untuk kebutuhan minum atau memasak. Air itu hanya bisa dimanfaatkan untuk mandi dan keperluan nonkonsumsi,” ujarnya.
Sebelum bantuan datang, warga terpaksa mengambil air dari sumur di wilayah perbatasan Desa Cibadak dan Desa Kawasen. Namun debit air di sumur tersebut terbatas, sementara jumlah warga yang membutuhkan cukup banyak. Bukan hanya warga Panamun, sumur itu juga dipakai warga dari dusun lain di sekitarnya.
“Selama ini masyarakat mengambil air dari sumur di perbatasan desa. Tapi airnya terbatas, sementara yang membutuhkan cukup banyak. Karena itu kami bergerak cepat agar kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi,” tutur Ani.
Sebagai langkah awal penanganan, BPBD Ciamis menyalurkan satu tangki air bersih berkapasitas 5.000 liter ke lokasi terdampak. Air bersih tersebut dipusatkan di titik distribusi agar warga lebih mudah mengambilnya.
Selain itu, BPBD juga berkoordinasi dengan pemerintah desa dan aparat setempat untuk menyiapkan kolam terpal sebagai tempat penampungan air sementara. Cara ini dinilai penting agar distribusi air berikutnya bisa lebih tertata dan mudah dijangkau warga.
“Kami juga menyiapkan penampungan sementara berupa kolam terpal supaya penyaluran air bersih lebih efektif dan masyarakat lebih mudah mengaksesnya,” jelas Ani.
Ia menambahkan, jarak permukiman warga ke titik pengambilan air bervariasi, mulai dari 50 meter hingga 800 meter. Karena itu, distribusi air bersih harus diatur dengan baik agar tidak terlalu memberatkan warga, terutama lansia dan ibu rumah tangga.
BPBD Ciamis memastikan akan terus memantau perkembangan kondisi di lapangan. Jika kemarau masih berlanjut dan kebutuhan air bersih warga terus meningkat, bantuan distribusi air akan kembali dilakukan.
“Kalau kebutuhan air bersih masih tinggi dan kondisi kekeringan belum membaik, tentu distribusi air akan kami lanjutkan sesuai kebutuhan warga di lapangan,” pungkasnya. (Ayu/CN/Djavatoday)

