Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Kampung Bendera, sebutan bagi Dusun Ranjirata di Blok Ciledug, Desa Cimari, Kecamatan Cikoneng, Kabupaten Ciamis, kini tak lagi semeriah dulu. Kawasan yang dikenal sebagai sentra perajin bendera merah putih dan umbul-umbul itu kini tengah menghadapi masa-masa sulit.
Menjelang bulan Agustus, biasanya para perajin di Kampung Bendera mengalami “panen raya”. Permintaan meningkat tajam seiring peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Bahkan, omzet miliaran rupiah sempat diraih para pelaku usaha ini, dari perajin hingga pedagang dan pekerja musiman.
Namun, sejak pandemi COVID-19 melanda, kemeriahan itu perlahan memudar. Gempuran toko online semakin memperparah kondisi perajin konvensional yang mengandalkan sistem distribusi langsung. Barang yang diproduksi tahun lalu pun, banyak yang masih menumpuk belum terjual.
Pantauan di lapangan pada Senin (21/7/2025), geliat usaha di Kampung Bendera masih tampak, meski tak seramai tahun-tahun sebelumnya. Beberapa warga terlihat tetap memproduksi dan menyortir bendera serta umbul-umbul yang akan dipasarkan kembali.
Salah satunya adalah Husni (52), perajin bendera yang sudah bertahun-tahun menjalankan usaha tersebut. Tahun ini, ia kembali menyortir stok lama untuk dijual ulang, lantaran tak berani memproduksi dalam jumlah besar seperti sebelumnya.
“Omzet tahun lalu turun drastis, sampai 60 persen. Persaingan makin berat karena sekarang banyak yang beli online. Di toko online harga bisa langsung dibandingkan, padahal kualitas dan ukuran bendera kami berbeda,” ujar Husni.
Sebelum pandemi dan ledakan e-commerce, Husni bisa mempekerjakan hingga 130 pedagang, dengan omzet menembus angka Rp 1 miliar. Kini, jumlah pedagang yang bertahan tinggal sekitar 20 orang. Banyak yang memilih banting setir ke pekerjaan lain karena sepinya permintaan.
“Dulu saat Agustusan, banyak instansi pemerintahan datang langsung ke sini untuk beli bendera. Sekarang, sudah tidak ada lagi,” keluhnya.
Husni biasa mendistribusikan bendera ke wilayah Jawa Tengah seperti Semarang, Grobogan, dan Purwodadi. Namun, volume penjualan terus menyusut karena konsumen beralih ke platform digital yang menawarkan harga lebih murah dan layanan instan.
Untuk tahun ini, Husni tidak menaruh harapan besar. Ia hanya memproduksi bendera dalam jumlah terbatas agar tidak menanggung kerugian lebih besar. Namun begitu, ia masih menyimpan harapan akan adanya peningkatan permintaan.
Husni pun berharap ada langkah konkret dari pemerintah daerah, seperti mengeluarkan imbauan agar masyarakat dan instansi memasang bendera dan umbul-umbul selama bulan kemerdekaan. Selain itu, gelaran lomba-lomba Agustusan dinilai bisa membangkitkan semangat sekaligus membuka kembali pasar bagi para perajin konvensional.
“Mungkin dampaknya tidak besar, tapi setidaknya bisa membantu kami bertahan,” pungkasnya. (Ayu/CN/Djavatoday)

