Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Aroma dupa perlahan mengepul di udara. Suara gamelan berpadu dengan langkah-langkah khidmat para kerabat keraton yang membawa pusaka dari Museum Galuh Pakuan menuju Situs Jambansari. Minggu (14/9/2025) itu, masyarakat kembali menyaksikan sebuah ritual sakral: Jamasan Pusaka peninggalan Bupati Galuh, Raden Adipati Aria (RAA) Koesoemadiningrat.
Tradisi ini bukan sekadar membersihkan keris, tombak, atau trisula yang diwariskan sejak abad ke-19, tetapi juga menjadi jembatan silaturahmi antar generasi. Ketua Yayasan Koesoemadiningrat, Raden Adi Gardita, menyebut prosesi jamasan adalah cara untuk merawat warisan leluhur sekaligus memperkuat identitas masyarakat Tatar Galuh.
“Pusaka ini bukan hanya benda, tapi simbol perjalanan sejarah. Dengan menjaganya, kita sekaligus menjaga jati diri agar tidak hilang ditelan zaman,” ujarnya.
Setiap tahunnya, jamasan dimulai dengan mengeluarkan pusaka dari tempat penyimpanan, lalu dibersihkan menggunakan air Kahuripan yang bersumber dari delapan mata air keramat. Air itu dipercaya membawa kesucian dan keberkahan. Satu per satu pusaka mulai dari keris Ki Betok yang pernah menjadi pegangan RAA Koesoemadiningrat, hingga dua tombak dan trisula, dicuci dengan jeruk nipis, bunga, kemudian diasapi dengan dupa sebelum dikeringkan kembali.
Prosesi yang dahulu hanya dilakukan dalam lingkup keluarga kini terbuka bagi masyarakat luas. Budayawan, pelajar, hingga komunitas lokal ikut menyaksikan jalannya upacara yang sarat filosofi tersebut.
Makna jamasan tidak hanya berhenti pada menjaga benda pusaka agar tidak rusak. Lebih dari itu, tradisi ini diharapkan menjadi bekal bagi generasi mendatang.
“Anak muda harus tahu, budaya seperti ini adalah ciri jati diri bangsa. Jangan sampai kita kehilangan akar,” tambah Adi Gardita.
Hal senada disampaikan Sekretaris Disbudpora Ciamis, Hendri Ridwansyah. Menurutnya, jamasan pusaka adalah bukti nyata betapa kaya dan beragamnya budaya Tatar Galuh.
“Ini cara kita menghormati leluhur sekaligus memperingati kekayaan budaya yang ditinggalkan. Kalau tidak dilestarikan, bisa saja hilang,” tegasnya.
Di tengah arus modernisasi yang kian deras, ritual jamasan menjadi pengingat bahwa identitas budaya tidak boleh tercerabut. Hendri berharap, tradisi ini dapat diwariskan secara turun-temurun agar tetap hidup di tengah masyarakat.
“Hal-hal seperti ini harus terus dipelihara. Tradisi jamasan bukan hanya milik Ciamis, tetapi juga warisan bangsa yang harus kita jaga bersama,” pungkasnya. (Ayu/CN/Djavatoday)

