Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Fenomena aksi “freestyle” yang dilakukan anak-anak saat sujud kembali menjadi sorotan. Dalam beberapa waktu terakhir, gerakan seperti handstand atau chinstand terlihat dilakukan saat salat berjamaah, bahkan saat bermain. Aksi tersebut disebut-sebut terinspirasi dari gaya dalam permainan Free Fire.
Di sejumlah lingkungan permukiman di Kabupaten Ciamis, aksi ini kerap terlihat saat salat Magrib berjamaah di masjid. Beberapa anak tampak mengangkat kaki ke atas dengan kepala bertumpu di lantai ketika sujud. Selain mengganggu kekhusyukan ibadah, tindakan tersebut dinilai berbahaya karena berisiko menyebabkan cedera.
Kekhawatiran pun muncul, terutama karena gerakan tersebut berpotensi menimbulkan cedera pada bagian leher. Di daerah lain, bahkan dilaporkan ada siswa sekolah dasar yang mengalami cedera setelah mencoba gerakan serupa.
Menanggapi hal itu, Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis mengingatkan pentingnya pengawasan terhadap aktivitas anak. Kepala Dinas Pendidikan Ciamis, Erwan Darmawan, menegaskan bahwa aksi freestyle tanpa pendampingan sangat berisiko.
“Menanggapi fenomena ini, kami berharap hal tersebut tidak terjadi di Kabupaten Ciamis. Kami akan segera mengeluarkan imbauan kepada seluruh satuan pendidikan agar lebih memperhatikan keselamatan siswa,” ujar Erwan, Rabu (6/5/2026).
Ia menekankan bahwa keselamatan anak harus menjadi prioritas utama, bukan sekadar mengikuti tren. Guru dan tenaga kependidikan diminta aktif mengarahkan siswa agar tidak melakukan aktivitas berbahaya.
“Jika melihat ada adegan berisiko, guru harus segera mengarahkan ke kegiatan yang lebih positif, seperti senam lantai yang dilatih oleh tenaga profesional,” jelasnya.
Erwan juga mengingatkan agar anak-anak tidak meniru gerakan ekstrem secara otodidak dari media sosial atau permainan tanpa bimbingan.
“Jangan dibiarkan anak belajar sendiri hanya dengan meniru, karena bisa berujung pada kecelakaan. Harus ada pendampingan dan arahan yang tepat,” tegasnya.
Selain peran sekolah, Disdik Ciamis juga mendorong keterlibatan orang tua dan lingkungan untuk ikut mengawasi aktivitas anak, terutama di luar jam sekolah. Langkah ini dinilai penting untuk mencegah risiko cedera dan menjaga keselamatan anak dalam keseharian mereka. (Ayu/CN/Djavatoday)

