Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Di balik kelezatan Colok Gembrung, camilan khas Kabupaten Ciamis, tersimpan cerita panjang tentang kreativitas warga dalam mengolah limbah dapur rumah potong hewan. Makanan yang terbuat dari potongan kulit sapi ini kini menjadi salah satu ikon kuliner tradisional yang masih bertahan di tengah gempuran jajanan modern.
Colok Gembrung berasal dari Dusun Pasir Datar, Desa Mekarjaya, Kecamatan Baregbeg. Bentuknya menyerupai sate, dengan potongan kulit sapi yang direbus, ditusuk menggunakan lidi, lalu dilumuri bumbu khas berbahan dasar galendo—limbah minyak kelapa yang menjadi ciri khas masakan Sunda.
Nama “Colok Gembrung” sendiri berasal dari kata “colok” (menusuk) dan “gembrung” yang merujuk pada tekstur kulit sapi kering yang menyerupai permukaan bedug.
Rukmini (74), generasi ketiga pembuat Colok Gembrung, mengenang awal mula makanan ini diciptakan oleh neneknya, almarhumah Imoh, pada dekade 1960-an. Kala itu, sang suami yang bekerja sebagai jagal di tempat pemotongan hewan, sering membawa pulang kulit sapi sebagai bagian dari upah. Limbah tersebut kemudian diolah menjadi camilan rumahan.
“Dulu kulit sapi direbus, dipotong kecil-kecil, lalu ditusuk pakai lidi dan dibumbui dengan galendo. Rasanya gurih manis, dan ternyata banyak yang suka,” ujar Rukmini saat ditemui di rumah sekaligus tempat produksinya, Rabu (7/5/2025).
Pada awalnya, Colok Gembrung Ciamis hanya dikonsumsi sendiri. Namun karena banyak tetangga menyukai rasanya, Rukmini mulai menjualnya ke pasar. Sejak lulus sekolah tahun 1962, ia rutin berjalan kaki subuh-subuh ke Pasar Ciamis—yang kini menjadi Alun-alun Ciamis—membawa dagangan dengan obor dari daun kelapa kering sebagai penerang jalan.
Kini, produksi Colok Gembrung telah dilanjutkan oleh anaknya, Yudi (50), yang merupakan generasi keempat. Ia mampu memproduksi hingga 800 tusuk per hari, dan meningkat jadi 2.000 tusuk saat pesanan membludak. Dengan harga jual Rp 800–1.000 per tusuk, camilan ini tetap terjangkau oleh semua kalangan.
“Sekarang saya fokus jualan di Pasar Banjar. Ada juga saudara yang jual di Pasar Ciamis dan Tasikmalaya,” kata Yudi.
Di tengah upaya mempertahankan warisan kuliner ini, Yudi kini tengah merancang inovasi agar Colok Gembrung bisa bertahan lebih lama dan siap dipasarkan secara daring. Tantangannya adalah menyesuaikan produk tradisional ini dengan tuntutan kemasan dan distribusi modern tanpa mengurangi cita rasa aslinya.
Colok Gembrung tak hanya menyambung kehidupan keluarga Rukmini, tetapi juga menginspirasi warga sekitar. Kini, sedikitnya 10 keluarga di Desa Mekarjaya turut memproduksi kudapan ini untuk berbagai pasar di wilayah Priangan Timur.
Tak disangka, dari limbah yang dulunya dianggap tak bernilai, Colok Gembrung mampu membiayai pendidikan anak-anak Rukmini hingga ke perguruan tinggi dan bahkan menghantarnya menunaikan ibadah haji. Sebuah bukti bahwa dari dapur sederhana, mimpi besar bisa tumbuh. (Ayu/CN/Djavatoday)

