Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Suara mesin bubut meraung pelan dari sebuah bengkel sederhana di Dusun Pasir Kadu, Desa Petir, Kecamatan Baregbeg, Kabupaten Ciamis. Di ruang sempit yang dipenuhi serbuk kayu, Suhro duduk membungkuk, menatap sebongkah kayu aren yang berputar di hadapannya. Tangannya bergerak perlahan, hati-hati. Sedikit saja lengah, risikonya bukan sekadar luka.
Di usia 73 tahun, Suhro masih setia menekuni kerajinan cobek kayu aren. Bahan bakunya berasal dari limbah kayu bekas pengolahan tepung aren atau aci kawung—sisa yang bagi sebagian orang tak lagi bernilai, namun di tangannya berubah menjadi alat dapur yang dicari pasar.
Setiap hari, Suhro hanya mampu menyelesaikan sekitar 10 keping cobek. Bukan karena kurang terampil, melainkan karena kayu aren terkenal keras dan sulit ditaklukkan. Mesin bubut, gergaji sirkel, dan pisau bubut menjadi alat andalannya, namun sekaligus sumber bahaya.
“Kayu aren itu beda. Keras sekali. Salah sedikit saja, bisa celaka,” ujar Suhro saat ditemui, Minggu (8/2/2026).
Pekerjaan yang dilakoni Suhro bukan tanpa luka. Dua bulan lalu, ia baru kembali bekerja setelah hampir setahun beristirahat. Awal Januari 2025 menjadi masa kelam baginya—jempol tangannya putus tersambar gergaji sirkel saat bekerja.
“Waktu itu kena mesin, jempol putus. Saya harus berhenti lama, hampir setahun baru bisa kerja lagi,” katanya lirih.
Risiko serupa juga dialami pengrajin lain di dusun tersebut. Suhro menyebut, satu per satu rekan seprofesinya memilih menyerah. Ada yang kehilangan beberapa jari, ada pula yang memutuskan banting setir demi keselamatan.
“Tetangga saya malah lebih parah, empat jarinya putus. Sekarang sudah tidak bikin cobek lagi, cari kerja lain,” tuturnya.
Namun Suhro memilih bertahan. Bukan karena tak takut, melainkan karena kebutuhan hidup tak bisa ditunda. Di usianya yang tak lagi muda, pilihan pekerjaan semakin sempit. Cobek kayu aren menjadi satu-satunya keahlian yang bisa ia andalkan.
Dalam sehari, hasil kerjanya dihargai sekitar Rp 50 ribu. Jumlah yang tak seberapa, tapi cukup untuk menyambung hidup bersama keluarga. Setiap cobek yang selesai dibentuk, biasanya langsung diambil pengepul yang datang ke tempat kerjanya.
“Ini terpaksa saya jalani. Demi ekonomi keluarga. Mau tidak mau,” ucapnya.
Kini, Suhro bekerja dengan prinsip baru: tak memaksakan diri. Saat lelah atau mengantuk, mesin dimatikan. Keselamatan menjadi harga yang tak boleh lagi diabaikan.
“Yang penting hati-hati. Kalau capek, berhenti. Jangan dipaksa,” katanya, sambil kembali menatap kayu aren yang berputar perlahan.
Di Dusun Pasir Kadu, cobek kayu aren bukan sekadar produk kerajinan. Ia adalah cerita tentang ketekunan, keterbatasan, dan keberanian bertahan—meski di baliknya, ada risiko yang setiap hari mengintai nyawa para pengrajinnya. (Andra/CN/Djavatoday)

