Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Kabupaten Ciamis memiliki kekayaan budaya yang tak ternilai, salah satunya berupa kesenian buhun atau kesenian tradisional warisan leluhur. Kesenian ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga sarana pelestarian budaya serta cerminan identitas masyarakat Tatar Galuh.
Berbagai kesenian buhun masih tetap eksis dan kerap dipentaskan dalam acara adat maupun perayaan daerah. Kehadiran kesenian ini menjadi upaya untuk mengenalkan nilai-nilai luhur kepada generasi muda agar tidak tergerus zaman.
Berikut lima kesenian buhun khas Ciamis yang masih bertahan hingga kini:
- Genjring Ronyok
Berakar dari Kecamatan Kawali, Genjring Ronyok adalah kesenian tradisional yang erat kaitannya dengan syiar Islam. Dulu, kesenian ini dikenal sebagai Genjring Buhun Gepak Lima karena hanya terdiri dari lima alat musik genjring. Seiring waktu, jumlahnya berkembang menjadi sepuluh buah, dilengkapi dengan bedug.
Genjring Ronyok diyakini menjadi salah satu media penyebaran Islam di Kawali oleh Kesultanan Cirebon pada masa lampau.
- Ronggeng Gunung
Tarian tradisional ini berasal dari wilayah Ciamis Selatan. Ronggeng Gunung dikenal dengan penampilan para penari perempuan yang menggunakan selendang dan berinteraksi langsung dengan penonton.
Kesenian ini diyakini lahir dari legenda Dewi Siti Samboja yang menari untuk membalas dendam atas kematian kekasihnya, Raden Anggalarang. Tarian ini diiringi alunan gamelan dan menghadirkan nuansa emosional yang kuat.
- Mengmleng Winduraja
Mengmleng Winduraja memiliki tampilan unik dengan ornamen kepala maung (harimau) Lodaya serta motif tubuh yang menyerupai harimau.
Kesenian ini telah diwariskan sejak masa Pangeran Mahadikusumah di era Prabu Maharaja Sakti Kerajaan Sunda. Hingga kini, Mengmleng kerap tampil di perayaan besar seperti Hari Jadi Ciamis dan Galuh Ethnic Carnival. Dengan keasliannya yang masih terjaga, kesenian ini berpotensi masuk sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).
- Ebeg Lakbok
Ebeg Lakbok merupakan kesenian khas dari Kecamatan Lakbok yang menampilkan tarian penunggang kuda lumping dari anyaman bambu. Para penari mengenakan kostum warna cerah dengan selendang dan asesoris, dilengkapi kliningan yang memperkuat suasana magis pertunjukan.
Kesenian ini sering dipentaskan dalam acara rakyat maupun festival daerah, termasuk dalam agenda tahunan Layang Lakbok.
- Janeng Sidaharja
Berasal dari Desa Sidaharja, Kecamatan Pamarican, kesenian Janeng termasuk salah satu seni buhun yang mulai jarang terdengar gaungnya. Dahulu, kesenian ini populer dalam berbagai hajatan dan perayaan resmi.
Kini, eksistensinya mulai memudar. Namun, masyarakat berharap agar Janeng bisa kembali diperkenalkan, terutama kepada generasi muda sebagai bagian dari kekayaan budaya daerah.
Kesenian buhun merupakan identitas budaya yang patut dijaga dan diwariskan. Pemerintah daerah, tokoh masyarakat, hingga generasi muda memiliki peran penting dalam memastikan kesenian-kesenian ini tidak hilang ditelan zaman.
Dengan pelestarian yang konsisten, Kabupaten Ciamis bisa terus menjadi barometer budaya di Jawa Barat sekaligus mengenalkan jati diri masyarakat Galuh kepada dunia. (Ayu/CN/Djavatoday)

