Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Di tengah sulitnya akses bantuan dari pemerintah, warga RT 27 RW 13 Dusun Panyingkiran, Desa Ciharalang, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, memilih untuk tidak tinggal diam. Mereka membuktikan semangat gotong royong masih menjadi kekuatan utama dalam membangun desa.
Bermodal semangat dan solidaritas, warga membangun jalan sepanjang 300 meter yang sebelumnya hanya berupa tanah dan bebatuan. Menariknya, pembangunan jalan itu dilakukan secara swadaya, hanya dari hasil “perelek”—sebuah tradisi khas Sunda berupa iuran kecil yang dikumpulkan dari setiap keluarga.
Setiap harinya, 37 kepala keluarga yang tinggal di wilayah tersebut menyisihkan uang sebesar Rp1.000 per rumah tangga. Dalam beberapa bulan, dana pun terkumpul dan digunakan untuk membeli material seperti semen, pasir, dan kerikil.
“Ini murni inisiatif warga. Sudah beberapa kali mengajukan bantuan ke pemerintah, tapi belum ada tanggapan. Akhirnya, kami sepakat gotong royong bangun jalan sendiri,” ujar Ketua RT 27, Dadang, saat ditemui di lokasi, Minggu (18/5/2025).
Menurut Dadang, pembangunan jalan kali ini menghabiskan dana sekitar Rp10 juta. Sebelumnya, pada tahun 2023, warga juga telah membangun jalan sepanjang 500 meter dan gapura lingkungan dengan biaya sekitar Rp25 juta yang juga berasal dari hasil perelek dan sumbangan warga.
Tak hanya untuk infrastruktur, hasil perelek juga digunakan untuk berbagai kebutuhan sosial lainnya. Seperti santunan bagi warga yang sakit, mengalami musibah, hingga kebutuhan mendesak seperti alat kematian. Bahkan, ada dana untuk piknik bersama, siskamling, dan pembelian sepeda motor bekas untuk inventaris RT.
“Awalnya dulu perelek dimulai dari uang Rp500 per hari per rumah untuk piknik. Tapi sekarang ditingkatkan jadi Rp1.000 agar bisa membantu banyak hal. Uang lebih fleksibel dibandingkan beras yang sulit dijual dan kadang habis untuk kebutuhan makan,” jelas Dadang.
Semangat kebersamaan ini juga dirasakan oleh para ibu rumah tangga yang memasak untuk konsumsi para bapak yang bekerja membangun jalan. Tradisi silih asih dan gotong royong hidup subur di lingkungan ini, tak hanya dalam bentuk kerja fisik, tapi juga dalam menjaga kebersamaan.
Tokoh masyarakat setempat, Ade Kusmayadi, menilai kekompakan warga RT 27 merupakan contoh nyata bagaimana nilai-nilai sosial masih kuat di tengah arus individualisme. Selain pembangunan jalan, warga juga secara kolektif menabung untuk pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) serta kebutuhan hari raya.
“Untuk tahun 2025 ini, seluruh PBB warga RT 27 sudah lunas, karena kami punya tabungan warga yang dikumpulkan setiap hari. Dua minggu menjelang lebaran, tabungan itu dibagikan beserta sembako,” kata Ade. (Ayu/CN/Djavatoday)

