Rabu, Oktober 27, 2021

Harga Kedelai Mahal, Perajin Tahu dan Tempe di Ciamis Perkecil Ukuran

Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Sejak beberapa pekan ini harga kacang kedelai melambung tinggi. Guna menyiasati agar tidak mengalami kerugian, perajin tahu dan tempe di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, terpaksa memperkecil ukuran produknya.

Meski ukuran diperkecil tidak serta diterima konsumen. Tidak sedikit pembeli yang mengeluh dengan harga yang sama namun ukuran lebih kecil. Ada pun cara lainnya dengan menaikan harga dengan ukuran tahu dan tempe tetap tapi konsumen tetap tidak mau.

Baca juga:

Bahkan di daerah lain seperti Tasikmalaya dan Purwakarta sejumlah perajin tahu dan tempe mogok produksi. Hal ini sebagai bentuk aksi agar pemerintah memperhatikan nasib para perajin dan berupaya untuk menstabilkan harga kacang kedelai.

“Kami tetap produksi belum ada rencana untuk berhenti produksi. Mau bagaimana lagi ini penghasilan sehari-hari. Walaupun untung kecil tapi kami tetap berupaya produksi agar menghasilkan,” ujar seorang perajin tahu Dudi Supriadi, Jumat (28/5/2021).

Menurut Dudi, kenaikan kacang kedelai sangat dirasakan setelah lebaran. Dari harga biasanya Rp 7 ribu sampai Rp 8 ribu per kilogram. Kini harganya melambung sampai Rp 11.200 per kilogram. Artinya setiap satu karung 50 kg, perajin harus mengeluarkan modal tambahan sampai Rp 200 ribu.

“Biasanya sekarung itu Rp 350 ribu, tapi sekarang sampai Rp 550 ribu. Sekarang keuntungan digunakan untuk modal agar bisa produksi,” ujar Dudi.

Perajin Tahu dan Tempe di Ciamis Berharap Pemerintah Turun Tangan

Dudi mengaku tidak mengetahui pasti naiknya harga kedelai. Namun ia berharap pemerintah segera melakukan upaya agar harga kedelai kembali stabil.

“Sekarang tahu ukurannya diperkecil sedikit agar harga tetap. Kalau harga yang dinaikan banyak yang mengeluh dan konsumen tida mau beli. Tahu dipasarkan ke Pasar Cineam, Ciamis, Sindangkasih dan Cikurubuk,” ungkapnya.

Perajin tempe Mimin mengaku telah mengurangi produksinya dari yang biasa 80 kilogram sehari kini hanya 30 kilogram saja. Tidak hanya itu, Mimin pun terpaksa memperkecil ukuran.

“Sebetulnya perajin tempe paling merasakan langsung kenaikan harga kedelai. Bedanya tahu kan digiling diolah, sedangkan tempe langsung kedelainya,” ucapnya.

Perajin tahu dan tempe di Ciamis berharap harga kedelai kembali normal dikisaran Rp 7 ribu sampai Rp 8 ribu. Bila harga terus naik, tidak menutup kemungkinan perajin bisa berhenti produksi. (CN/AY/Djavatoday)

ARTIKEL TERKAIT

BERITA TERBARU