Kabupaten Ciamis dikenal sebagai daerah yang kaya akan seni dan budaya tradisional. Salah satu yang paling ikonik sekaligus unik adalah Seni Helaran Bebegig dari Kecamatan Sukamantri. Kesenian ini bukan hanya terkenal di Ciamis, tetapi juga sudah melanglang buana ke berbagai daerah di Indonesia. Keunikannya membuat Bebegig Sukamantri ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI pada tahun 2018.
Namun, di balik penampilannya yang menyeramkan dan atraktif, tersimpan kisah panjang serta filosofi mendalam tentang hubungan manusia dengan alam dan nilai-nilai kehidupan.
Jejak Sejarah Bebegig dari Lereng Utara Sukamantri
Seni Helaran Bebegig berasal dari wilayah Tawang Gantung, di sebelah utara Desa Sukamantri, Kabupaten Ciamis. Berdasarkan penuturan budayawan setempat, Eman, kawasan itu dahulu dikenal sebagai daerah yang dianggap keramat dan memiliki hutan lebat yang dijaga secara turun-temurun.
Konon, tempat tersebut diyakini sebagai bekas kerajaan yang dipimpin oleh Prabu Sampulur, sosok sakti dan bijak. Dalam cerita rakyat, Prabu Sampulur menciptakan topeng-topeng dari kulit kayu dengan wajah menyeramkan sebagai simbol penjaga alam dari marabahaya serta gangguan manusia yang berniat jahat.
Dari tradisi inilah kemudian lahir sosok yang disebut Bebegig—penjaga hutan yang gagah, berani, dan misterius. Seiring waktu, tradisi tersebut berkembang menjadi sebuah kesenian rakyat yang diwariskan lintas generasi hingga kini.
Ciri Khas dan Filosofi di Balik Wujud Bebegig
Secara visual, Bebegig Sukamantri tampil dengan wajah menyeramkan, mata melotot, bertaring panjang, dan dominan warna merah, hijau, serta hitam. Topengnya terbuat dari bahan alami dan dihiasi rambut dari ijuk pohon aren atau kawung yang terurai panjang.
Bagian atas topeng diberi mahkota dari kembang buah dan daun waregu, disusun rapi bersama hiasan bunga hahapaan dan daun picisan—semuanya diambil dari tanaman yang tumbuh subur di wilayah Sukamantri.
Namun, di balik bentuknya yang terkesan menakutkan, setiap atribut memiliki makna filosofis yang dalam.
Menurut Eman, pohon kawung yang menjadi bahan utama rambut topeng melambangkan manfaat hidup. Semua bagian dari pohon itu bermanfaat bagi manusia, sehingga mengajarkan nilai-nilai kebermanfaatan dan keseimbangan alam.
Sementara daun waregu pancawarna melambangkan kebaikan dan kebahagiaan, meski bukan berarti daunnya berwarna-warni secara fisik. Adapun kembang bubuay, bunga yang tumbuh dari sejenis rotan, menggambarkan kebersamaan, silih asah, silih asih, dan silih asuh—nilai-nilai luhur dalam kehidupan sosial masyarakat Sunda.
Bebegig, Tarian Energi dan Simbol Kebersamaan
Dalam setiap pertunjukannya, Seni Helaran Bebegig biasanya dimainkan secara berkelompok. Setiap orang mengenakan satu kostum lengkap Bebegig yang beratnya bisa mencapai 25 hingga 40 kilogram. Mereka menari mengikuti irama musik tradisional sambil menampilkan atraksi penuh tenaga, kadang disertai adegan seperti duel atau perkelahian simbolik.
Ciri khas pertunjukan ini adalah bunyi kolotok, alat musik dari kayu yang mengeluarkan suara khas saat digoyang. Irama kolotok menjadi pengiring utama tarian Bebegig, menghadirkan suasana magis dan energik yang selalu memikat penonton.
Bebegig Sukamantri Mendunia
Ketenaran Bebegig Sukamantri semakin meluas sejak kemunculan Komunitas Bebegig Baladdewa Sukamantri yang dipimpin oleh Kang Cucu Vanji. Komunitas ini aktif memperkenalkan Bebegig ke berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Bali, Surabaya, Yogyakarta, Jakarta, hingga Banten.
Prestasi mereka pun membanggakan. Tahun 2018, Bebegig Sukamantri berhasil menyabet Juara Umum Parade Budaya Nusantara di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta. Keberhasilan ini sekaligus memperkuat posisi Bebegig sebagai simbol identitas budaya Kabupaten Ciamis.
Tak hanya itu, Kecamatan Sukamantri juga pernah menorehkan rekor nasional. Pada 20 Desember 2016, sebanyak 604 kolotok dimainkan bersamaan dengan 320 kostum Bebegig dan para penarinya. Pertunjukan kolosal ini tercatat dalam Original Rekor Indonesia (ORI) sebagai penampilan kolotok terbanyak di Tanah Air.
Lebih dari Sekadar Hiburan
Seni Helaran Bebegig bukan sekadar tontonan rakyat. Ia adalah warisan budaya yang mencerminkan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan nilai-nilai spiritual. Melalui gerak, warna, dan simbol-simbolnya, Bebegig mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan hidup serta melestarikan alam dan tradisi.
Kini, Bebegig bukan hanya menjadi kebanggaan warga Sukamantri, tapi juga ikon budaya Kabupaten Ciamis yang diakui secara nasional. (Ayu/CN/Djavatoday)

