Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Malam telah melewati waktu Isya ketika aktivitas di sebuah masjid kampung di Desa Imbanagara Raya, Kecamatan Ciamis, perlahan mencapai puncaknya. Peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW—yang oleh warga setempat dikenal dengan sebutan Rajaban—baru saja selesai digelar. Namun bagi anak-anak, acara belum benar-benar usai.
Sejak sore hari, mereka sudah tampak mondar-mandir di sekitar masjid. Ada yang setia duduk mengikuti pengajian hingga tuntas, ada pula yang memilih menunggu sambil bercengkerama di halaman dan pinggir jalan. Tujuan mereka satu: menanti pembagian berkat, tradisi khas Rajaban yang selalu dinanti.
Begitu panitia mulai menata bingkisan, suasana mendadak berubah. Anak-anak yang tadinya santai langsung bergerak mendekat. Barisan kecil pun terbentuk. Wajah-wajah penuh harap terlihat jelas, diselingi gelak tawa dan celetukan khas bocah kampung. Berkat yang dibagikan memang sederhana, namun maknanya jauh lebih besar dari sekadar makanan.
Dalam tradisi Rajaban, berkat dipercaya membawa doa dan keberkahan. Itulah sebabnya, meski hanya berisi nasi, kue, atau jajanan ringan, bingkisan tersebut terasa istimewa. Bahkan ada anak yang kembali mengantre setelah mendapat jatah, berharap bisa membawa pulang lebih banyak untuk dinikmati bersama.
Setelah kantong plastik berpindah tangan, satu per satu anak-anak meninggalkan masjid. Ada yang langsung membuka isinya di jalan, ada pula yang menyimpannya rapi untuk dimakan di rumah bersama keluarga. Kesederhanaan itulah yang justru membuat momen Rajaban terasa hangat.
Di tengah gempuran hiburan digital dan layar gawai, suasana seperti ini menjadi pemandangan yang menenangkan. Anak-anak masih memilih datang ke masjid, mendengarkan ceramah, dan larut dalam tradisi keagamaan yang telah diwariskan turun-temurun. Meski jumlahnya tak sebanyak masa lalu, semangat itu belum sepenuhnya pudar.
Bagi generasi yang tumbuh di era sebelumnya momen ini seperti mesin waktu. Rajaban bukan hanya soal peringatan keagamaan, tetapi juga tentang antrean panjang, berbagi makanan, dan kebahagiaan sederhana yang sulit dilupakan.
Rizki, salah satu anak setempat, mengaku sudah berkeliling ke beberapa masjid pada malam Rajaban ini.
“Sudah tiga masjid didatangi. Masjid Madrasah Nurul Falah, Masjid Al Anwar, sama Masjid Al Idhar. Ikut rajaban sekaligus berburu berkat,” ujarnya sambil tersenyum.
Ia datang bersama tiga temannya. Menurut Rizki, isi berkat selalu berbeda karena berasal dari sumbangan warga.
“Ada yang langsung dimakan, ada juga yang dibawa pulang. Isinya macam-macam, ada biskuit, ciki, roti, sama minuman,” katanya.
Malam Rajaban pun berakhir, menyisakan cerita kecil yang kelak mungkin akan dikenang. Tradisi sederhana itu terus hidup, dijaga oleh tawa anak-anak dan kenangan yang diam-diam tumbuh di setiap langkah pulang mereka. (Ayu/CN/Djavatoday)

