Berita Ciamis (Djavatoday.com),- Bukan hanya kantor desanya yang sempat viral karena megah bergaya Eropa, Desa Rancah di Kabupaten Ciamis juga memiliki balai dusun yang tak kalah mencuri perhatian. Bangunan Balai Dusun Cibeureum bahkan disebut sebagai salah satu yang termegah di wilayah Ciamis.
Dengan tampilan arsitektur menyerupai rumah mewah, lengkap dengan tiang-tiang beton kokoh dan struktur dua lantai, bangunan ini membuat banyak orang keliru mengira sebagai rumah pribadi milik warga kaya.
Namun faktanya, bangunan elegan berwarna abu-abu dengan aksen merah itu adalah kantor resmi Kepala Dusun Cibeureum, yang terletak hanya sekitar satu kilometer dari Kantor Desa Rancah.
Kepala Desa Rancah, Dedi Hidayat, mengungkapkan bahwa pembangunan balai dusun tersebut sepenuhnya didanai oleh warga melalui swadaya masyarakat. Proyek ini dimulai pada 2020, saat dirinya masih menjabat sebagai Kepala Dusun Cibeureum.
“Pembangunan ini murni dari hasil gotong royong warga. Tidak memakai dana desa sama sekali,” ujar Dedi saat ditemui di kantornya, Rabu (4/6/2025).
Menurut Dedi, semangat membangun fasilitas publik yang megah ini berawal dari inspirasinya melihat sejumlah masjid megah yang telah lebih dulu dibangun di wilayah dusun.
“Saya berpikir, jika warga bisa membangun tempat ibadah dengan begitu megah, kenapa fasilitas pemerintahan tidak?” ucapnya.
Dari pemikiran itu, Dedi lalu mengajak tokoh masyarakat setempat untuk menggagas pembangunan balai dusun sebagai pusat pelayanan publik dan kegiatan kemasyarakatan.
Pembangunan balai dusun tersebut menelan biaya sekitar Rp786 juta, yang dikumpulkan dari 350 kepala keluarga di Dusun Cibeureum. Sistem iuran pun diterapkan dalam tiga kelas, sesuai dengan kemampuan warga. Yakni Kelas 1: Rp1,5 juta, Kelas 2: Rp750 ribu, lalu Kelas 3: Rp350 ribu.
Iuran dibayarkan secara cicilan selama dua tahun.
Balai dusun ini kini memiliki fasilitas lengkap, termasuk ruang organisasi kepemudaan, toilet yang representatif, serta aula untuk berbagai kegiatan warga.
“Ini adalah bukti nyata kekompakan masyarakat. Mereka ingin punya kantor dusun yang layak, bersih, dan membanggakan,” kata Dedi.
Ia berharap semangat swadaya ini bisa menjadi contoh bagi dusun-dusun lain dalam membangun fasilitas publik tanpa harus bergantung penuh pada anggaran pemerintah. (Andra/CN/Djavatoday)

