Berita Banjar (Djavatoday.com),- Kurang dari satu pekan menjelang Hari Raya Idul Adha 1446 Hijriah, pasar hewan kurban di Kota Banjar, Jawa Barat, masih terlihat sepi. Para pedagang mengaku penjualan sapi tahun ini menurun drastis dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Enceng, salah satu pedagang sapi kurban asal Desa Balokang, menyebut kondisi ini sebagai salah satu yang terberat selama ia berdagang hewan kurban.
“Biasanya satu bulan setengah sebelum lebaran kurban, sudah mulai ramai. Tapi sekarang, sampai tinggal hitungan hari, sapi masih banyak yang belum laku,” ungkapnya saat ditemui di kandang miliknya, Minggu (1/6/2025).
Dari 40 ekor sapi yang disediakan tahun ini, Enceng mengaku baru berhasil menjual kurang dari setengahnya. Ia memperkirakan penurunan penjualan mencapai 70 persen dibanding tahun lalu.
Menurut Enceng, melemahnya daya beli masyarakat menjadi faktor utama turunnya penjualan. Di sisi lain, biaya operasional justru meningkat tajam, terutama untuk pakan dan perawatan sapi.
“Harga singkong sekarang Rp2.000 per kilogram. Saya butuh 50 kilogram sehari. Belum lagi biaya untuk jamu dan vitamin agar sapi tetap sehat dan makannya bagus,” jelasnya.
Meski dalam tekanan, Enceng tetap berusaha menjual sapinya dengan harga kompetitif. Ia menawarkan berbagai pilihan, mulai dari sapi dengan harga di bawah Rp 20 juta hingga sapi premium jenis Simmental seberat 800 kilogram yang dibanderol hingga Rp 60 juta.
“Yang kecil ada di bawah Rp 20 juta. Kalau yang besar, seperti Simmental, bisa sampai Rp 60 juta tergantung bobot dan kondisi,” tuturnya.
Meskipun kondisi pasar belum menggembirakan, Enceng dan pedagang lainnya tetap optimistis. Mereka berharap dalam beberapa hari ke depan, permintaan hewan kurban akan meningkat seiring mendekatnya hari pelaksanaan.
“Biasanya mendekati hari H suka ada lonjakan pembeli. Kami tetap berharap,” katanya.
Situasi ini mencerminkan tantangan yang dihadapi para pelaku usaha hewan kurban Kota Banjar, terutama di tengah tekanan ekonomi yang memengaruhi perilaku konsumen. Pemerintah daerah pun diharapkan dapat memberikan dukungan, seperti subsidi pakan atau promosi pasar ternak, untuk menjaga keberlangsungan usaha peternak lokal. (Diana/CN/Djavatoday)

